Oh iya sebelum kalian baca ini, gue sarankan untuk membaca blog gue yang 'All You Need Is Friend'. Disana gue sangat amat jelas menjelaskan hal - hal yang enggak gue suka, dan pada saat inilah, gue merasakan hal itu.
Jadi gini, gue paling sensitive dengan yang namanya di
diemin. Karena apapun itu, dengan sedetik tiba – tiba gue bisa bete dan ga
ngomong seharian sama orang itu. Atau kebalikan nya, gue justru ngerasa kalo
diri gue memprihatinkan dan malah nangis karena hal sepele kaya gini.
Gue suka ngerasa kalo gue sangat amat childish. Selalu mau
keinginan nya diturutin. Tapi kalo orang yang diminta merasa kalo hal yang gue
inginkan itu gaperlu dilakukan, gue langsung ngerasa gue dijatohin dari langit
dan mendarat di batu - batu gitu. Sakit woy. Dan seberusaha itu pun gue nahan air mata
supaya enggak nangis. Mungkin bagi sebagian orang lebay, tapi sumpah, itu yang gue rasain.
Mungkin ada beberapa orang yang gue harapin untuk mengerti
siapa sosok gue sebenarnya. Ngerti outside and inside of myself. Tapi entahlah,
selama ini, gue belum menemukan siapa orang itu.
Ketika gue berbicara dan ingin spent time dengan temen deket
gue, disitulah konfliknya. Ada saat dimana temen deket gue menyempatkan
waktunya untuk ngobrol dengan pacarnya, dan dengan seenak jidat gue
ditinggalin. Sendirian. Semua orang juga enggak mau diperlakuin kayak gitu.
Gue enggak tau mau cerita ke siapa, karena menurut gue,
kalaupun gue cerita ke orang, pendapat mereka pastilah sama, “Udahlah, mereka
kan emang punya pacar. Mereka berhak ngatur dan jalanin hidup semau mereka.”
I KNOW IT DUDE.
But please, ngertiin gue yang sangat amat menghargai waktu
sama kalian. Ngertiin gue yang juga mau kalian pentingin. Ngertiin gue yang mau
juga kalian ajak ngobrol, kalian ajak main.
Ada saat dimana gue pengen peluk mereka, pengen nangis di pundak mereka, itupun cuma untuk ngomong, “Gue sayang sama kalian. Gue enggak mau kehilangan kalian. Dan tolong, gue juga mau diperlakuin dengan sama.”
Ada saat dimana gue pengen peluk mereka, pengen nangis di pundak mereka, itupun cuma untuk ngomong, “Gue sayang sama kalian. Gue enggak mau kehilangan kalian. Dan tolong, gue juga mau diperlakuin dengan sama.”
Salah kalo gue juga mau feedback dari kalian?
Gue emang bukan pacar kalian. Dan itu sebabnya kalian lebih
memprioritaskan mereka.
Tapi selama kalian ada di titik terbawah dari diri kalian,
siapa yang kalian cari?
Siapa yang sellalu ngeladenin chat kalian sampe larut
dan di pagi buta?
Siapa yang rela masuk ke dalam masalah kalian hanya untuk
ngebantu kalian?
Emangnya pacar kalian ngelakuin hal sampe sejauh itu?
Engga.
Mereka cuma buat kalian jatuh cinta, ngebuat kalian ngerasa
nyaman, padahal kalo kalian ngebuka mata untuk ngeliat ke sekeliling kalian,
dia bukan apa – apa.
Dia bahkan bukan orang yang tahu segalanya di hidup
kalian.
Dia bukan orang yang kalian percayain.
Harusnya kalian sadar.
Kalo kalian putus, yang ada di sisi kalian siapa?
Akankah pacar kalian masih hadir di samping kalian?
Engga.
Sesakit apapun kalian ngelakuin hal yang ngebuat gue jatuh,
tapi enggak pernah sekalipun gue berfikir untuk ninggalin kalian. Enggak pernah
sekalipun gue mikir, kalo gue kapok temenan sama kalian dan mau menjaga jarak
supaya enggak terluka lagi.
Enggak pernah.
Gue bingung aja, kenapa kalian sejahat itu sama gue.
Ngelakuin hal jahat yang mungkin enggak kalian sadari, tapi sangat amat
nyakitin gue.
HAHAHAHA GUE MENITIKAN AIR MATA WOI NULIS INI.
Intinya, gue sayang kalian.
Mungkin kalian enggak pernah tau sebesar apa respect and
love gue sama kalian. Sampai mungkin salah satu dari kalian baca ini dan ngasih
tau ke yang lain. Meskipun gue tau, kalo waktu itu enggak akan pernah ada.
Kalian semua enggak akan pernah tau sebesar apa rasa sayang yang gue simpan ini
kepada kalian.
Dikit lagi kita UN.
Dikit lagi lulus.
And it means, bentar lagi kita pisah.
Dan semakin deket dengan saat
itu, justru gue akan semakin pengen banget spent time sama kalian. Karena gue
sadar, kalo gue akan sangat amat sulit ngelepas kalian. Gue akan sangat amat
sulit untuk melewati semua hal yang
biasa kita lakuin bersama justru jadi sendirian.
Too much memories. Too much love.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar